#related-posts{float:left;height:160px;margin-bottom:10px; outline: 1px solid #fff;border: 1px solid #ddd;background: #f9fafb;} #related-posts h3{font-family: Francois One;font-size:20px;font-weight:400;color: #222222;margin-bottom: 0.5em;margin-top: 0.5em;margin-left: 0.5em;padding-top: 0em;} #related-posts ul{margin:5px;width:613px;padding-left:17px;list-style:none;display:block;} #related-posts ul li{list-style:none;position:relative;float:left;border:0 none;margin-right:11px;padding:2px;width:86px;} #related-posts ul li:hover{z-index:100} #related-posts ul li:hover img{border:3px solid #BBB} #related-posts ul li:hover div{font-size:7px;text-transform:capitalize;position:absolute;top:20px;left:-15px;margin-left:0;width:130px} #related-posts ul li img{border:3px solid #DDD;width:80px;height:80px;background:#FFF;display:block;} #related-posts ul li div{position:absolute;z-index:99;margin-left:-999em} #related-posts ul li .title{text-align:center;border:1px dotted #CCC;background:#fff;padding:5px 10px

Pages

Senin, 03 Oktober 2011

(FF) My Fool Bride Part 1



 By : Yessis
               
                “Apa? Jadi selama ini kau telah memiliki tunangan?” yuri benar-benar kaget mendengar pengakuanku, sebagai sahabatnya aku tak tahan untuk menyimpan rahasia terlalu lama. Kami sudah bersahabat sejak kelas 3 SMP, dan sudah hampir 7 tahun aku menyimpan rahasia ini, kini kami sudah tingkat akhir kuliah dan setelah lulus aku akan menikah dengan tunanganku, aku tak ingin yuri merasa dikhianati olehku karena aku menyimpan rahasia.

“eunjung-ah, siapa orang itu? Sejak kapan kalian bertunangan? Bagaimana kalian bisa bertemu? Apa kalian saling mencintai?” yuri terus memberondongiku dengan berbagai pertanyaan, “eunjung-ah, cepat jawab aku.” Pinta yuri, ia benar-benar kesal denganku yang terus diam.


Aku tersenyum melihat yuri semakin tidak sabar, “Sssuuut....Pelan-pelan, tanya aku satu-satu, aku bingung  harus jawab yang mana dulu.” Pintaku.

“Ehmm...Baiklah.” Yuri membetulkan posisi duduknya, kami sedang makan direstoran steak kesukaan kami, kami sering sekali datang kesini untuk makan dan juga ngobrol.

“Siapa namanya?” tanya yuri perlahan, ia berusaha bersabar, tapi aku tahu dia sangat gemas ingin bertanya banyak padaku.

“Kim Jong Woon.” Jawabku singkat.

“Umur?”

“28 tahun.”

“Kupikir sudah cukup umur.” komentar yuri, “Kau 24 tahun, dia 28 tahun, perbedaan umur kalian 4 tahun. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.”

Aku mengangguk setuju. yuri mulai terlihat tenang, ia mulai makan steak dihadapannya.

“Hmm... Apa pekerjaannya?” tanya yuri.

Aku berusaha mengingat-ingat, “Kau tak ingat?” tanya yuri tak percaya,

“Kalau tidak salah dia seorang jaksa di seoul.”

“Ok. Aku ingin lihat fotonya.” Pinta yuri, ia benar-benar tidak percaya temannya sangat keterlaluan polosnya. Sejak pertama kali bertemu hingga sekarang ia sudah biasa dengan sifat polos temannya tapi tidak sepolos ini pikir yuri.

“Baiklah.” Kataku senang, aku mengambil sebuah foto yang selalu aku bawa dalam dompetku, aku memberikan foto tersebut pada yuri, yuri mengambil dan melihatnya.

“Siapa ini? Kenapa kau memberikan foto keponakanmu?” yuri bingung melihat foto yang aku berikan merupakan foto seorang anak laki-laki berumur sekitar 10 tahun.

“Jangan bercanda denganku, berikan foto tunanganmu.” Kata yuri memberikan kembali foto yang aku berikan padanya.

“Itu tunanganku.” Kataku meyakinkan.

“aku tidak mengerti. Aku ingin melihat fotonya yang sekarang bukan ketika dia masih kecil.” Protes yuri, aku hanya diam karena aku memang tak memiliki foto tunanganku yang sekarang.

“eunjung-ah pabo. Jangan katakan kau ditunangkan oleh orangtuamu dan kau belum pernah bertemu dengan orang tersebut.” Teriak yuri, aku kaget sekali melihat yuri marah.

“Aku...Aku belum pernah bertemu dengannya.” Kataku takut.

“Heuh....Ini yang membuatku kesal, kenapa kau begitu bodoh, batalkan pertunanganmu, jangan takut pada orang tuamu, aku akan membantumu untuk menjelaskan pada orang tuamu.”

“Jangan yuri-ah....” teriaku khawatir yuri benar-benar melakukan rencananya, “Aku percaya pada appaku, aku akan menikah dengan tunanganku setelah lulus kuliah.”

“Eunjung-ah, kumohon, aku ingin kau bahagia, menikah dengan orang yang kau cintai bukan orang yang ditentukan oleh orang lain.”

“Aku mencintainya. Sungguh mencintainya.” Kataku meyakinkan.

“Hah....Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan berpikirmu. Baiklah aku menyerah, terserah kau saja.” Kata yuri kesal, ia tidak melanjutkan makannya.

“Lalu, sekarang dia ada dimana?”

“Sekarang dia tinggal disana bersama keluarganya diseoul.” Jawabku.
***

                Beberapa hari yuri masih marah dengan keputusanku yang aneh menurutnya, aku berusaha meyakinnya bahwa aku bahagia dengan keputusanku tapi ia tetap tak percaya padaku.

“Yuri-ah...”Panggilku

“Ada apa?” tanya yuri dingin,

“Jangan begitu padaku, kau adalah satu-satunya sahabatku, jangan marah padaku.” Mohonku, yuri terlihat merasa bersalah.

“Aku juga tidak suka kita terus marahan seperti ini.” Kata yuri,

“Kita baikan?” aku mengulurkan tangan, yuri menyambutnya kemudian kami saling tersenyum,

“Tapi ini bukan berarti aku setuju dengan keputusan bodohmu.”

“Aku tahu.” Kataku

“Oh ya, karena 2 bulan lagi kita lulus. Itu artinya aku akan segera menikah. Kau tahu? Besok malam ia akan datang kerumah bersama dengan keluarganya, ini pertama kali kami akan bertemu.”

Yuri memandangku lekat, “Kau telihat senang sekali. Aku masih tak percaya ada cinta yang seperti ini.”
***

                Aku mengeluarkan semua pakaian terbaikku, tapi tak satupun yang membuatku puas, aku pergi kekamar kakak perempuanku, aku mengobrak abrik isi lemarinya tapi tak ada baju yang aku suka, “Eunjung-ah, apa yang kau lakukan?” taeyon unie kaget melihatku mengacak-acak kamarnya,

“Aku tidak punya pakaian yang bagus untuk nanti malam.” Kataku

Taeyon unie duduk disebelahku, “Eunjung-ah, pakai saja apa yang terbaik yang kau punya, unie yakin tunanganmu akan suka.” Unie mengelus rambutku lembut.

“Sudah pergi dandan sana, sebentar lagi dia akan datang. Lagipula unie harus membereskan kamar ini sebelum oppa pulang kerja.” Unie mengusirku, unnie sudah menikah 2 tahun yang lalu dengan yunho oppa, yunho oppa merupakan pilihan unnie. Entah mengapa appa menjodohkanku dan tidak menjodohkan unnie, Sebenarnya aku tak terlalu memikirnya tapi kadang pertanyaan ini datang begitu saja.
                Aku selesai berdandan, kuputuskan memakai sebuah dress berwarna pink dengan syal putih. Aku menunggu  didalam kamar dengan perasaan tegang, tanganku memegang foto tunanganku yang berumur 10 tahun.

“Eunjung-ah, cepat keluar. Dia sudah datang.” Panggil taemin, ia adalah keponakanku yangmasih berummur 8 tahun, taemin merupakan anak yang sangat aktif, aku sering kena ulah kejahilannya tapi aku tidak bisa marah padanya, aku tidak tega memarahinya. Kami keluar bersama menuju ruang tamu. Aku terus menundukkan kepalaku, aku terlalu tegang untuk melihat wajah tunanganku.

“Eunjung unnie, yang itu tunanganmu.” Kata taemin menunjuk pada seorang pria muda yang baru pertama aku lihat.

“Selamat malam, eunjung-ah.” Kata seorang yang paling tua disana, aku berusaha menegagkan kepalaku, disana terdapat tiga orang, seorang perempuan paruh baya kupikir ia adalah calon ibu mertuaku disampingnya seorang pria paruh baya dengan rambut sedikit beruban, ia tersenyum padaku, ia pasti calon ayah mertuaku, disampingnya seorang pria berambut pendek memakai kemeja berwarna biru muda, ia tersenyum pada, dia adalah tunanganku, wajanhya tidak banyak berubah, ia sangat mirip dengan foto ketika ia masih kecil.

“Silahkan duduk.” Kata appa mempersilahkan mereka duduk, berbagai makanan dan minuman ringan dihidangkan untuk menyambut tamu.

“Aku tak menyangka, eunjung-ah semakin cantik.” Kata Jongwoon appa.

“Terimakasih.” Kataku malu. Aku merasa aneh kenapa jongwoon oppa tidak berkata apapun, apa dia sangat pemalu? Pikirku, apa sebaiknya aku yang memulai berbicara pertama kali.

“Hmm...Jongwoon oppa, terlihat lebih muda dari yang aku bayangkan.” Kataku tiba-tiba, semua orang terdiam mendengar kata-kataku, apa ada yang aneh dengan pertanyaanku? Pikirku.

“Hahaha...” Jongwoon appa dan appaku tertawa diikuti oleh yang lain, aku merasa bodoh tapi aku tidak tahu kenapa.

“Kau belum tahu? Dia adik Jongwoon-shi.” Bisik taeyon unnie yang merasa malu dengan celetukkanku. Aku menundukkan kepala dalam, aku benar-benar malu. Aku kena lagi oleh kajahilan taemin.

“Annyeonghaseyo, Kim Jongwoon-imnida.” Seseorang masuk mengaku bernama Jongwoon, pakaiannya sangat tidak formal, ia menggunakan jeans dan kaos berwarna hitam.

“Maafkan aku terlambat.” Kata Jongwoon oppa.

“Tidak apa-apa. Appamu sudah menjelaskan, kau harus menyelesaikan tugasmu sehingga terlambat. Masuklah.” Kata appa mempersilahkan. Aku benar-benar malu dengan apa yang telah aku lakukan. Tanpa sadar aku berlari kedalam kamar.
***

Author OPV
                Semua orang tertawa melihat tingkah eunjung yang sangat polos, sedang Jongwoon bingung melihat eunjung berlari ketika ia datang.

“Apa dia marah karena aku terlambat?” tanya Jongwoon.

“Tidak apa-apa. Dia hanya pemalu.” Kata eunjung oemma.

                “Eunjung-ah, keluarlah.” Taeyon unnie mengetuk pintuku berkali-kali, ia membujukku untuk keluar.

“Aku sangat malu unnie.” Kataku menyembunyikan wajahku dibalik bantal.

“Dia masih belum mau keluar?” tanya yunho yang mendatangi taeyon, taeyon menggelengkan kepala.

Yunho mengetuk pintu kamar eunjung, “Eunjung-ah, Kesampingkan dulu rasa malumu, sebentar lagi dia akan pulang. Ini kesempatanmu untuk bertemu dengannya, apa kau tak ingin bertemu dengannya? Akan sangat lama untuk bisa bertemu lagi dengannya.” Bujuk Yunho oppa. Eunjung membuka pintu kamarnya, ia merasa masih sangat malu tapi ia menguatkan diri untuk bertemu dengan tunangannya.

Eunjung POV
                Sekarang kami berada dalam satu meja makan, kedua orang tuan kami, adik jongwoon yang bernama jongjin, taeyon unnie, yunho oppa dan juga taemin. Aku duduk disamping Jongwoon oppa, jantung berdebar sangat kencang, aku merasa akan mati saat itu juga, “Eunjung-ah, bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Jongwoon oppa.

“Satu bulan lagi aku akan sidang kelulusan.” Jawabku.

“Kau harus bersemangat. Jangan pikirkan pertunangan dan pernikahan kita, fokuslah pada studimu.” Katanya, aku tak terlalu suka nada bicaranya yang seolah-olah aku adalah adiknya bukan calon istrinya.

                Setelah makan malam dan mengobrol, keluarga Jongwoon pamit pulang. Aku menatap kepergian Jongwoon oppa.

“Jongwoon oppa.” Panggilku, Jongwoon berhenti dan berbalik. Aku menghampirinya.

“Aku...sebenarnya malu meminta ini dihadapan semua orang.” Kataku malu, “Tapi...Bolehkah aku memotomu?” tanyaku singkat. Jongwoon oppa tersenyum dan menggangguk. Lalu aku mengeluarkan Hpku kemudian memotretnya.
***

                “Dia tidak terlalu tua dari umurnya.” Kata yuri memandang foto Jongwoon, keesokan harinya aku langsung menunjukkan foto tunanganku pada yuri.

“Tapi foto ini tidak cukup membuatku yakin. Kita belum tahu sifatnya.” Kata yuri.

“Lalu apalagi yang harus aku lakukan untuk meyakinkanmu?”

“Setelah selesai sidang kelulusan, kita pergi ke seoul untuk membuktikan kalau tunanganmu benar-benar orang yang pantas untuk kau cintai.”

“Apa? Seoul sangat jauh dari Busan.” Kata kaget dengan ide yuri.
***

                Dan bodohnya aku tetap mengikuti rencana yuri. Kami turun dari bis, sekarang kami sudah sampai di seoul. Berbekal alamat rumah dan alamat kerja Jongwoon oppa yang aku liat dari buku catatan appa, kami nekat ke seoul. Aku dan yuri benar-benar buta daerah Seoul.

“Sekarang kita harus mencari rumah ahjusiku, setelah itu kita pergi menyelidiki tunanganmu itu.” Kata yuri, aku tak terlalu yakin dengan tindakanku tapi aku juga penasaran dengan orang yang hanya beebrapa bulann lagi akan menjadi suamiku.

“Eunjung-ah, aku ingin ketoilet dulu. Kau jaga barang-barang disini ya.” Pinta yuri.

“Baik, pergilah.” Kataku. Aku menunggu yuri diluar terminal bus, seoul sangat ramai, semua orang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Tiba-tiba seseorang merampas paksa tasku.

“Tolooooooong.” Teriakku, aku berlari mengejar pencuri tersebut. Ia berlari sangat kencang, tapi aku berusaha terus mengejarnya.

“Hentikan orang itu, dia pencuri.” Teriakku. Beberapa langkah lagi aku bisa menangkapnya, aku memegang tangannya. Ia menatapku kasar.

“Kau...perempuan.” kata kaget, ternyata pencuri tersebut adalah seorang perempuan yang masih remaja.

“Ada apa ini?” tanya seorang bapak yang mendatangi kami.

“Dia mencuri tasku.” Kataku menunjuk anak perempuan tersebut.

“Apa? Masih kecil berani mencuri.” Bapak tersebut memukul kepala si pencuri, aku sedikit kasihan melihatnya.

“Ahjusi cukup.” Kataku menghentikan bapak tersebut.

“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa anak ini ke kantor polisi.” Kata si bapak menarik tangan anak perempuan tersebut.

“Ahjusi, tasku?”

“Ini sebagai barang bukti, kau tunggu disini setelah selesai aku akan mengantarkannya padamu. Hanya sebentar, tidak kurang dari 30 menit.” Kata bapak tersebut. Aku mengangguk kemudian menunggu bapak tersebut kembali membawa tasku.

1 jam

3 jam

7 jam

Malam hari, aku melihat jam tanganku sudah pkl.11.00 pm, bapak tersebut belum juga datang, kupikir bapak tersebut kesulitan mengambil tasku dari polisi jadi dia belum bisa datang, aku putuskan untuk terus menunggu.

Sebenarnya aku tak terlalu suka tempat aku menunggu, terlalu banyak perempuan berpakaian seksi berlalu lalang dan juga pria-pria mabuk, beberapa kali mereka menggodaku tapi aku berusaha tidak menghiraukan

“Hei cantik, kau sedang apa? Kesini temani ahjusi.” Panggil seorang pria tua dengan rambut sedikit beruban, ia terlihat sangat mabuk. Aku tak menghiraukan perkataannya. Tapi pria tua tersebut terus mendekatiku, bau alkohol tercium sangat menyengat, “Mari pergi dengan ahjusi.” Tangannya memegang tanganku, aku segera menepisnya.

“Anak sombong.” Teriaknya, “beraninya kau padaku.” Ia semakin marah lalu berusaha memegang tanganku lagi, aku segera menepisnya dan memukul kepalanya, ia jatuh tersungkur dengan mudahnya karena mabuk.

Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi, semua orang berlari ketakutan, aku bingung keadaan yang terjadi, semua orang yang tertangkap oleh polisi dimasukkan kedalam mobil polisi.

“Kau, ikut denganku.” Seorang polisi menarik tanganku, memakaikanku borgorl.

“Aku tidak bersalah.” Teriakku takut, aku berusaha berontak tapi polisi tersebut dengan kasar memasukkanku kedalam mobil.
***


                Akibat kebodohanku, aku berakhir di kantor polisi. Sekarang aku duduk didepan seorang polisi yang meninterogasiku.

“Pak polisi. Aku benar-benar tidak bersalah. Aku disana sedang menunggu seorang paman membawa tasku kembali.” Jelasku. Polisi tersebut tidak terlalu memperhatikanku, dia sibuk dengan komputernya.

“Tidak punya identitas, tidak tahu cara menghubungi keluar. Jadi aku harus percaya padamu seperti apa?” tanya polisi.

“Aku punya keluarga, tapi aku tidak hapal nomor hp siapapun. Semuanya ada di hpku, hpku ada ditas dan tasku masih ada di ahjusi itu.” Jelasku lagi.

“Nona, cerita karanganmu tidak bisa merubah keputusanku. Kau harus masuk penjara karena kesalahanmu, kau harus ikut pembinaan, tidak baik menjual diri.” Kata polisi  tersebut.

Aku kaget mendengar polisi itu menganggapku seorang pelacur, “Aku bukan wanita murahan.” Teriakku sambil mengebrak meja, semua orang melihat kearahku.

“Eunjung-shi...” Panggil seseorang, “Kenapa kau ada disini?” tanya orang tersebut, ia adalah Jongwoon oppa. Aku kaget bertemu dengannya dalam keadaan yang tidak baik, aku menutup tanganku yang diborgol dengan syalku.

TBC

Artikel Terkait

3 komentar:

  1. Anyeong. Ffnya bagus. Critanya menarik. Tapi ko gantung ? Lanjutin dong.. Biasku yekyu juga loh :D

    BalasHapus